Goa Jatijajar, Paduan Legenda dan Keindahan

14 July, 2008 - 8:02 WIB | Oleh : MA

gua jatijajarBerwisata di Kabupaten Kebumen, belum lengkap rasanya tanpa mengunjungi Goa Jatijajar. Objek wisata yang terletak 21 kilometer sebelah barat daya Kecamatan Gombong itu memang layak menjadi prioritas tujuan wisata. Keindahan alam yang ditawarkan serta mitos dan legenda yang menlingkupi menjadi daya tarik tersendiri.

Oleh karena daya tarik itulah, Goa Jatijajar masih menjadi primadona, dibanding goa-goa yang ada di Kebumen. Goa yang saat ini dikelola Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsibud) itu selalu ramai dipadati pelancong, terlebih saat musim liburan tiba.

Soal keindahan alam goa alam ini tidak perlu diragukan lagi. Lanskap perut bumi yang langka didapat ditawarka di tempat ini. Lihat saja, berbagai jenis batu seperti batu stalakmit, stalaktit dan heritit yang terbentuk dengan indah. Sungguh dari atap goa batu-batu itu menjulur ke bawah dengan kokoh dan indah.

Jika menelusuri ke dalam gua yang konon ditemukan oleh seorang petani bernama Jayamenawi pada 1802 M itu, pengunjung akan menemukan sejumlah sungai atau sumber air atau sendang yang masih aktif. Namun dari tujuh yang ada hingga kini hanya lima sendang saja yang baru ditemukan yakni Puser Bumi, Jombor, Mawar, Kantil, dan Jalatunda. Sedangkan dua lainnya masih dalam pencarian.

Tidak hanya keelokan alam yang ditawarkan goa yang terletak hanya beberapa kilometer dari pantai Logending itu. Tiap-tiap sungai atau sendang tersebut juga diselimuti mitosnya sendiri-sendiri. Sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya berkhasiat untuk mengabulkan bermacam tujuan. Sedangkan sendang Mawar konon jika airnya untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun sendang Kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat cita-citanya akan mudah tercapai.

Terlepas benar atau tidaknya, tidak sedikit pelancong yang datang ke goa tersebut hanya ingin ngalap berkah. Ada yang mempunyai tujuan mendoakan bisa diterima sekolah favorit, bekerja, dan tujuan-tujuan lain yang bersifat mistis. “Bagi orang-orang yang mempercayai hal-hal mistis, goa ini mempunyai daya tarik tersendiri ” ujar Agus Riyono, salah satu pegawai objek wisata Goa Jatijajar kepada Suara Merdeka CyberNews.

Tak hanya mitos, goa yang mempunyai luas areal wisata 5,5 hektare itu memiliki legenda yang sangat menarik ceritanya. Konon, goa yang dipugar pertama kali pada 1975, merupakan salah satu tempat pertapaan pangeran Banyak Cokro, putra dari Raja Siliwangi dan Prameswari, atau yang kemudian dikenal dengan nama Kamandoko, saat melarikan diri dari kepungan pasukan kadipaten Pasiluhur.

Di tempat itu pula, Kamandoko kemudian mendapat perintah untuk mengambil pusaka di gunung Baturagung yang kini dikenal Baturaden. Karena pusaka itulah, Kamandoko bisa berubah menjadi Lutung Kasarung. Yang kemudian bisa mempersunting putri dari Adipati Kandandoho dari Kadipaten Pasiluhur. Kisah itu, dilestarikan dengan memasang patung-patung legenda tersebut di beberapa sudut goa. Total jumlah patung sebanyak 32 buah yang dibagi dalam delapan diorama.

Mengunjungi Goa Jatijajar, jangan lupa membeli oleh-oleh berupa jenang atau dodol krisik serta kupat pecel yang mempunyai rasa khas Jatijajar. Sebelum itu, tidak ada salahnya singgah di warung lesehan di bawah pohon-pohon rindang menikmatinya makanan sembari menikmati hembusan semilir angin yang berhembus.

Bersama keluarga, teman, atau pun sendirian, mengunjungi Goa Jatijajar menjadi kegiatan wisata yang menyenangkan. Sayang coretan jahil dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab menodai keindahan alam di kawasan goa. Lihat saja bibir goa yang terdapat sejumlah tulisan liar. “Sayang, pengelolaannya terkesan seadanya. Padahal objek wisata ini sangat potensial untuk dikembangkan,” ujar Mubarok (26) pengunjung asal Cilacap.









eXTReMe Tracker
Copyright © 2007 www.modelayu.com