Fashion Parade APPMI I

28 May, 2008 - 6:59 WIB

cantik berjilbabPERGELARAN Jakarta Fashion Food Festival (JFFF) masih dilanjutkan dengan penutupan pamungkas oleh para perancang yang tergabung dalam keanggotaan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).

Mereka yang unjuk gigi dalam perhelatan tersebut, terdiri dari Malik Moestaram, Rebecca Ing, Uke Toegimin, Lia Kusumaningdiah, Harry Lam, Gerarldus Sugeng S, Anne Rufaidah, Rudy Chandra, Rudy Liem, Monika Jufry, Susan Zhuang, dan Harry Ibrahim.

Masing-masing membawakan hasil karyanya dengan tema yang berbeda. Malik Moetaram, perancang muda yang berbakat ini membawakan tema Assonance Lullaby (lantunan lagu-lagu yang sama pada akhirnya). Terinspirasi dari konsep Korea, dia mencoba menggabungkan konsep tersebut dengan gaya Indonesia.

Hasil rancangannya diwujudkan dengan warna-warna royal blue dan biru langit, classic white, emas tanah, serta terakota. Dihiasi dengan motif bunga, lekuk dan pita, seluruh hasil rancangannya menggunakan material dari taffeta, katun, dan drill.

Ade Irma lain lagi, dia mengusung tema “The Last Dark” dengan konsep desain kontemporer etnik. Sementara itu, Rebecca Ing menghadirkan tema “Imperatrici” yang mewujudkan keanggunan ratu para ratu Mesir pada zaman sebelum masehi yang mengutamakan detail kain untuk menonjolkan siluet tubuh.

Menggunakan bahan dari sifon sutera, satin sutera dan kain tule, sembilan rancangannya hadir dengan warna-warna terang seperti emas, oranye, hijau, dan biru.

“The Jung”gle, itulah tema yang dibawakan oleh Uke Toegimin. Berlandaskan oleh kesadaran akan kekayaan budaya Indonesia, perancang yang berasal dari Kalimantan Barat ini coba mempertahankan dan mengacu pada tren global yang semakin peduli pada lingkungan.

Seluruh rancangannya menggunakan material tenun dengan motif gambar orang dan garis geometris dengan pewarnaan alami. Hadir dalam warna-warna natural bersiluet A, H, dan X, dia mencoba memberikan kesan young and trendy.

Beda halnya dengan Lia Kusumaningdiah, konsep desain busana muslimnya diusung dengan tema “Dayak in Harmony”. Dijelaskan olehnya, tema tersebut terinspirasi dari eksotisme budaya Kalimantan.

“Dengan pahatan dan motif-motif dekoratif dan atraktif, seluruh rancangannya dihadirkan dengan menggunakan warna-warna tegas tanpa menghilangkan kesan yang eksotik,” paparnya.

Dengan karakter dan inspirasi tersebut serta menggunakan bahan Thomson silk, Thai silk, sifon sutera, polyester, tenun dan lurik yang dipadukan sehingga membentuk sebuah harmoni yang elegan dan glamour. Dengan sentuhan teknik lukis, motif Dayak dan aplikasi yang dipermanis dengan taburan payet dan swarovski itu semakin menawan.

“Untuk pemilihan warna, saya menggunakan warna-warna alam dan campuran warna emas. Semua warna tersebut menambah kesan elegan, etnik dan eksotis,” jelasnya.

“Exotic Blossom”, itulah tema yang diusung oleh Harry Lam. Terinspirasi oleh gaya busana wanita Indonesia tahun 40-50an yang dipengaruhi pertemuan barat dengan etnik oriental (Jepang), dia menggabungkan bahan batik, taffeta dan silk organza.

Gerarldus Sugeng, perancang dari Jawa Timur ini membawakan 10 hasil rancangannya yang bertema “Wild Attraction”. Hadir dengan konsep sexy dramatic, seluruh rancangannya menggunakan siluet gaun terusan bergaya klasik dengan warna animal print yang terbuat dari bahan sifon.

Anne Rufaidah, perancang asal Jakarta ini membawakan fashion show yang mengusung tema “Flowing Wind”. Desain rancangan busana muslimnya sangat nyaman dengan permainan kain menjuntai. Perpaduan kebaya dengan gaun terusan dan celana banyak diaplikasikan pada rancangannya. Warna-warna yang digunakan pun sangat bervariatif, ada putih, pink, coklat, krem dan emas.

Gaya oriental masih menginspirasi perancang busana dalam pergelaran ini, salah satunya ialah Rudy Chandra. Mengusung tema “Oriental Splendour”, pesona budaya Asia dipadukan olehnya dengan gaya modern yang lebih ringan dengan memakai bahan dari tanah air seperti Tenun Klungkung yang berasal dari Bali.

Adapun koleksinya ialah busana koktail (ready to wear) yang lebih ringan, simpel, feminism, dan elegan. Warna-warna yang hadir pun dihiasi dengan biru tocsa, biru muda, dipadukan dengan aplikasi bordir memakai tali kur dan lipit plisket serta payet, koin dan batu-batuan seperti kristal. Rancangannya hadir dengan potongan baby doll dipadukan celana tiga perempat dan bolero pendek.

Terinspirasi dari era tahun 20an di Shanghai, di mana situasi politik dan ekonomi tengah labil, Rudy Liem menampilkan koleksinya dengan tema “Shanghai Eupharia”. Ke-10 rancangannya dipadukan dengan unsur Indonesia yaitu batik Pekalongan. Gaun dengan batas pinggul rendah hadir dengan pemakaian aplikasi bebatuan, manik-manik, pita, dan bordir.

Bertema “Simple Eclectic”, Monika Jufry memadukan batik dengan berbagai macam gaya busana modern yang bernapaskan Islam. Adapun bahan yang digunakan terdiri dari batik Madura, kain pual kapas, sifon, sutera organza, dan taffeta.

Pengaruh budaya masyarakat Amerika kuno dan Indian menginspirasi gaya bohemian atau gypsy. Gaya tahun 20-an yang loose dengan aksen ruffle dan frill coba dipadukan dengan gaya hippy tahun 70-an dan bohemian dengan sentuhan detail dan motif oleh Susan Zhuang.

Bertema “Bohemian Chic”, Susan mengadopsi gaya tersebut dipadukan dengan tenunan Indonesia, sehingga menambah kesan eklektik. Siluet H, A, dan lingkaran banyak digunakan dalam seluruh rancangannya.

Harry Ibrahim menutup pergelaran kali ini. Bertema “Le Secret Jardin”, Harry terinspirasi dari sekelompok wanita yang sedang berada di padang rumput Yunani dengan background Collosseum. Tampil dengan gaya tipis melayang, layer, dihiasi kain tirai, bercahaya dan bervolume, detail batu-batuan dan sulaman menghiasi seluruh koleksinya



Baca Juga :
Pesta Fashion ala Cannes
A Touch of Perfection Allure

Comments are closed.



eXTReMe Tracker
Copyright © 2007 www.modelayu.com