Bisnis Fashion Dua Sosialita
17 August, 2008 - 4:21 WIB
Vera Abi dan Ina Thomas enggan disebut sosialita. Namun, wajah mereka kerap hadir di pesta dan fashion show desainer ternama. Kini mereka melansir lini busana “VI”.
Kehadiran dua sahabat ini bak duo Maia dalam dunia musik. Selalu ditunggu karena pesona dan personal style yang berani beda. Nyeleneh! “Teman bilang baju kami bagus, kenapa enggak buka butik? Kami punya taste dan style sendiri, dan itu bisa diterima,” ujar Vera.
Taste dan style, plus nama. Vera Abi adalah orang lama dalam pergaulan kaum sosialita di Jakarta, sedangkan Ina Thomas, wanita cantik ini adalah istri aktor Jeremy Thomas yang juga punya networking luas.
“Saya bukan sosialita, Vera itu mantan model. Jika orang menilai penampilan kami bagus, itu karena kami memang berusaha tampil sebaik mungkin, dan tidak mencari penilaian. Bagi saya, datang ke pesta-pesta itu sekalian promo bisnis kami. Marketing promotion,” tutur Ina.
Ibu cantik ini bercerita, seorang pengusaha garmen di Surabaya hendak membeli namanya untuk dijadikan label busana. Tawaran itu mentah-mentah ditolaknya. Ina merasa punya bakat lebih untuk “menggunakan” namanya. Terlebih dia memiliki sahabat baik Vera Abi untuk diajak susah senang bersama. “Kami ini perempuan yang punya taste dan tidak ingin menyia-nyiakan waktu. We want to do something, bikin lini busana,” tutur Vera.
Bulan April 2008, mereka melansir lini busana “Vera Abi dan Ina Thomas” dan “VI”. Koleksi terbatas ini terdiri atas long dress, mini dress, top, dan bottom. Materialnya dimulai dari batik, sifon, dan katun. Lebih kepada busana kasual, siap pakai dan evening dress.
“Kami enggak kepikir akan melewati waktu yang relatif cepat. Saat itu kan summer, di kepala kami hanya ada ide baju yang kami pengin. Lalu marketing lewat relasi kami aja,” cerita Ina.
Duo ini memang “egois”. Koleksi busana ini benar-benar mengadaptasi gaya mereka. Proses kreatifnya pun unik. Dua yummy mommy ini mengaku tidak bisa gambar. “Setidaknya kami tahu rendanya dibikin di mana,” ujar Vera seraya tertawa renyah.
Lain lagi dengan Ina. Dia menggambar desain baju bersama anaknya. Setelah itu, baru dibawa ke tukang jahit sekaligus memilih bahan. Tiba saatnya mengumpulkan hasil “prakarya”, kerap kali ditemukan kesamaan. Baju rancangan Ina dan Vera mirip. “Paling hanya beda pada punggungnya gitu! Tapi kami enggak pernah mempermasalahkan. Kami kasih kebebasan untuk bereksperimen,” tutur Ina.
Napas dari koleksi busana mereka adalah boho style. Baju panjang, tunik, terkesan loose, dengan potongan sederhana, tidak banyak bermain lipit, kerut, maupun teknis tingkat tinggi. Seperti kata Ina, kemampuan mereka dengan desainer berbeda.
They’re just having some fun and business.
Sejauh ini mereka mengaku banyak teman di Jakarta maupun di luar kota yang tertarik dengan koleksi mereka. Memang kalau dilihat dari segi harga sangat kompetitif.
“Mulanya kami dari batik terus ke sifon, evening dress. Awalnya memang boho style, tapi belakangan ini ke arah feminin karena ada banyak permintaan. Kami kan enggak boleh egois, harus baca pasar juga. Konsumen kami menyukai gaya keibuan dan glamor, jadi kelihatan mahal,” sebut Ina
Ada satu momen ketika seorang desainer menghampiri mereka, memberi pujian pada koleksi VI. Wah, rasanya bangga sekali mendapat support dari sang desainer. Bagai oase di tengah sinisme tentang lini busana yang tengah mereka rintis.
“Semua itu proses pendewasaan diri dari segala hantaman (kritik). Aku belajar dari Vera kalau makin disakiti, malah bertambah berkatnya. Bisnis berdua ini kasih banyak hal positif,” tutur Ina.
Vera dan Ina mengaku baju mereka sudah dijiplak orang. Namun, mereka malas ribut. Contohnya saja, tas Channel, LV dipalsukan di mana-mana, mulai barang berkualitas KW3 sampai KW 1, tapi pemiliknya ogah ribut. Apalagi mereka yang punya lini baru.
“Oh ya, bilang juga bahwa kami akan bikin semua. Mulai aksesori, sepatu, tas, apa aja yang kami bisa,” ujar Vera. Namanya berbisnis, harus pandai melihat peluang dan mau bersaing. Bicara persaingan, dua wanita ini seperti cukup tanggung untuk melewati sinisme dan ketatnya persaingan di dunia mode.
Baca Juga :
Koleksi Material Alam Muji Ananta
Koleksi Olimpiade 2008 Beijing

